Thursday, May 08, 2014

My Master Study landed to ITB


I have been curious about the result of KGSP 2014 scholarship. It mentioned that the announcement would be first week of May 2014 and it was May 8th. I tried to take a look my email and i found nothing about scholarship notification. Pursuing my curiosity, then i opened 'study in korea' website and began to search announcement information. Yap, finally i found the information i need so-called "Notice for second candidate....". I opened that link and tara... my name did not exist. T_T

That's OK. It's been my second chance failed on the scholarship selection after ADS last year. Yes i was really disappointed at that time. Just at that time. Then gave up ? Big NO NO. I told my wife about my failure on scholarship selection and she said "It's OK abi, i'm really proud of you for every efforts you've done so far. It might the best from Allah swt give you a chance to continue your study in Indonesia and you already accepted in ITB which not everyone could". You were right My Love..., maybe this is my right path and i have to maximize this chance.

Honestly, ITB was my second target for my master study. I had a plan for this year study, if i couldn't accepted by overseas university scholarship i would take ITB as my study destination. And obviously Allah granted me on my second choice. :)

It was not easy to pass ITB selection for MBA school. I remember my AAT and ELPT test preparation in order to meet ITB requirement. I was quite confident for English Test because it not my first time experience. However, AAT was my first time test which mean i did not know about the question model prediction. I just found on the blog that AAT model similar with GMAT question. Eventually, i learnt GMAT question for AAT test preparation. Of course all of the question in English and i must adapted with that.



Finally testing day has come. OK, i tried to calming my self and suggesting to just do the best i can. Forgot about the result, just do the best. One week afterward, i received an email from SBM ITB announcing that i had been accepted for MBA Young Executive program. Alhamdulillah.... It all thanks to support from my lovely wife, prayer from my family, friend and certainly God willing.

OK...from now on i will focus to get my goal in this place, InsyaAllah. Not only get the formal title but also there would available tons of network, chance and of course materialize my dream. I am happy to be me with all i have.

Note: I am not continue my study in computer science again by the way. I love business field and tend to lead Finance major.

Thursday, February 06, 2014

Make a New Thing

"...At some point, when you can do it, you have to leave home. You can always come back, but you have to leave at least once. Your brain gets too comfortable in your everyday surroundings. You need to make it uncomfortable. You need to spend some time in another land, among people that do things differently than you. Travel makes the world look new, and when the world look new, our brains work harder." taken from book "Steal like an artist by Austin Kleon".

Living this life doesn't mean we only through this life just like water flow in the river. When we got stuck or really bored, the only way to do is 'make' a new thing. We have to go out from our comfort zone for a while and try something unusual and not tangled up in our daily job. It would trigger our brain to recognize very much information and make us being creative.

Just do simple thing differently. Go to the office earlier than before, try a new menu for breakfast, traveling to a new places, or attending seminar with the topic out of our major are a must tried activities for coloring our life.

We can build dynamic life by our own manner because everyone has different habit. The last, by make a new thing in such a way, would prevent brain freeze and stuck of living this life and we will be thankful to God for giving us this beautiful life.




Wednesday, October 23, 2013

from SWA : "Robby Djohan : Tugas CEO Memimpin Orang, Bukan Bisnis"

Karena artikelnya bagus dan sangat bermutu, so saya copas untuk pembaca semua :). mariiii
Peran Chief Executive Officer (CEO) di sebuah perusahaan sangat vital. Sebagai punggawa tertinggi, CEO berpengaruh besar dalam menggerakan roda bisnis. Namun, tidak sedikit dari CEO di Indonesia yang salah menjalankan posisinya sebagai pemimpin. Robby Djohan, mantan CEO Bank Mandiri, Bank Niaga, dan Garuda Indonesia, berpendapat, tugas CEO seharusnya mengelola manusia, bukan bisnis. Berikut nukilan wawancara reporter SWA, Ario Fajar, dengan mantan bankir top itu di kantornya, Graha CIMB Niaga.

Robby Djohan, Mantan CEO Bank Mandiri, Bank Niaga dan Garuda Indonesia
Anda dikenal sebagai pemimpin yang piawai membawa perubahan dan kemajuan perusahaan. Apa strategi yang diterapkan?
Saya tidak mempunyai strategi khusus. Mungkin saya berbeda dengan pemimpin kebanyakan. Hal yang saya lakukan selama saya menjadi pemimpin adalah memimpin orang, bukan memimpin bisnis.
Apa maksud dari pernyataan tersebut?
Selama ini saya menilai, CEO yang ada sekarang hanya fokus pada bisnis, bukan people. Banyak pemimpin yang salah mentafsirkan jabatan dan perannya. Pemimpin yang benar itu 20% mengurusi bisnis, sisanya 80% mengurusi orang. Inilah yang saya lakukan di beberapa perusahaan ketika menjabat sebagai CEO.
Jadi, apa yang harus dilakukan seorang CEO?
CEO harus lebih banyak mencari talent-talent baru dan memberikan kesempatan ketimbang mengurusi bisnis. Urusan bisnis itu bisa dijalankan oleh manajer-manajer. Jika dia turun tangan juga, dia tidak ubahnya dengan seorang manajer. Pemimpin adalah orang mempunyai visi dan misi, dia mencari orang-orang yang tahu dan berkemampuan untuk mengejar visi dan misi itu. Kebanyakan CEO sekarang lebih sibuk menjalankan bisnis, mengejar profit, tapi tidak memberikan kesempatan kepada talent-talent yang bagus untuk berkembang. Ada beberapa CEO yang menjabat sebagai pemimpin bank sekarang adalah orang-orang yang pernah saya beri kesempatan. Dan hasilnya, Anda bisa lihat sendiri.
Apakah Indonesia kekurangan CEO yang Anda maksud?
Kita sangat minim kaderisasi. Indonesia kekurangan CEO-CEO hebat disegala jenis industri. Akhirnya, muncullah aksi bajak-membajak profesional.
Bagaimana seharusnya peran dari organisasi?
Banyak perusahaan menempatkan CEO hanya sebagai businessman, bukan professonal. Hasilnya, perusahaan tidak cukup banyak melahirkan pemimpin yang mahir mencetak pemimpin baru untuk mengelola organisasinya. Bisnis yang sehat bersumber dari kinerja organisasi yang baik. Kinerja organisasi yang baik itu pastinya digerakan oleh orang-orang yang berkualitas. Untuk itu, perlu ada talent management program yang berkesinambungan.
Apakah itu yang Anda lakukan saat menjabat CEO?
Ketika saya menjabat sebagai CEO di beberapa perusahaan, saya sendiri yang mencari orang-orang terbaik. Bahkan tidak ada direktur personalia.
Berarti harus ada intuisi untuk mencari calon pemimpin?
Ya. Prosesnya cukup sederhana. Tidak perlu fit and proper test atau sejenisnya. Hubungan interpersonal, komunikasi, serta track record sudah menjadi pertimbangan saya untuk memberikan kesempatan.
Dari sekian banyak CEO yang menjabat, siapa CEO yang sejalan dengan pemikiran Anda atau menjalankan hal-hal yang pernah Anda jalankan?
Agus Martowardojo, mantan Dirut PT Bank Mandiri Tbk adalah pemimpin yang sangat ideal. Di zamannya, dia mampu menggerakan orang-orang muda untuk memajukan perusahaan. (EVA)