Showing posts with label Muhasabah. Show all posts
Showing posts with label Muhasabah. Show all posts

Wednesday, January 18, 2012

Kalo Baik, Pede Aja Lagi !

(Ilustrasi)
Ya, satu hal memang paradigma yang harus diubah manakala hidup dalam zaman yang serba hedonis ini. Tanpa disadari trend kebaikan menjadi aneh dilakukan dari pada hal-hal yang kurang bermanfaat.
Ketika seorang yang bukan perokok berada dalam lingkungan dimana orang - orang disana merokok, maka akan terasa aneh jika tidak mengikuti trend nya. Apalagi ketika berada dilingkungan ketika show up di hadapan bos lebih berharga dari pada show up di hadapan Allah swt.
Aneh memang, ketakutan pada pengakuan manusia lebih berarti daripada pengakuan dan kecintaan Allah swt. Ini membudaya terutama dikalangan pekerja kantoran dimana performance sangat diutamakan. Sebagai seorang yang minoritas dalam trend kebaikan, kepercayaan diri yang tinggi sangat diperlukan karena apa yang menjadi sebuah ketakutan ?. Perlu menjadi pemahaman adalah bahwa tugas utama kita didunia ini hanyalah dua, yakni untuk beribadah (QS. 57:72) dan untuk menjadi khalifah (QS. 2:30). Sehingga dengan pedoman tadi kita bisa menjadi pioner dalam segala bentuk kebaikan.

Saturday, June 11, 2011

Review Kembali Perjalanan Hidup

Saya sempat tersentak mendengar pemaparan ustadz sewaktu mengikuti pengajian pekanan ahad ini. Malam itu kami ditanya sudah sejauh mana perjalanan hidup yang kita lalui ? dan kearah mana lagi kita akan melangkah ?. Subhanallah, review kembali visi dan misi hidup ini menjadi penting ketika motivasi dan semangat dalam menjalani hidup sudah mulai melemah. Peta hidup yang sudah tercanang dan tergambar dengan baik hendaknya bukan menjadi hiasan atau pajangan semata. Akan tetapi harus senantiasa di evaluasi, sudah sampai sejauh mana, apa yang sudah baik, dan apa yang perlu diperbaiki.

Sunday, October 24, 2010

Pengasong Kota Modern

(Ilustrasi)
Sayup adzan isya' terdengar membahana di seantero Kota Tangerang. Termasuk di Lake a View Kost (Biasa aku menyebut tempatku bermukim). Bergegas aku menuju Musholla tidak jauh dari tempat kost ku. Nampak di Musholla sudah berdatangan jamaah dari warga sekitar. Tidak berbeda dengan hari - hari sebelumnya, hanya orang itu - itu saja yang kutemui ketika sholat berjamaah di Musholla tersebut.
Ketika berdiri sesaat setelah iqomah berkumandang, pandanganku tertuju pada lelaki setengah baya yang tergesa memasuki Musholla dengan membawa dagangan asongan nampak tidak ingin ketinggalan jamaah.

Saturday, April 10, 2010

Perahu Besar Itu Bernama Tawakal


Dikisahkan ada dua orang pengembara yang sedang melakukan perjalanan kesebuah tempat. Untuk melakukan perjalanan ke tempat tersebut, mereka harus menaiki sebuah perahu yang sangat besar.

Sesampainya di perahu, pengembara pertama dengan santainya meletakkan barang bawaannya yang begitu berat laiknya orang yang akan bepergian jauh untuk kemudian beristirahat. Sebaliknya, pengembara kedua masih berdiri diatas kapal dengan memanggul barang bawaannya yang berat.

Pengembara pertama menyapa pengembara kedua untuk menurunkan barang bawaannya dan segera beristirahat karena perjalanan masih sangat jauh. Namun pengembara kedua tidak menggubris saran dari rekannya tersebut. Bahkan pemilik kapal yang memperingatkannya pun juga tidak digubris dengan alasan dia ingin melindungi barang bawaannya dan dia sanggup untuk melakukan itu. Dia juga beranggapan bahwa banyak diantara penumpang lain yang juga melakukan hal yang sama.

Semakin lama tubuh pengembara tersebut juga semakin letih untuk menahan beban tersebut. Disisi lain, diapun melihat penumpang lain yang mati tertindih barang bawaannya karena tubuhnya tidak kuat untuk terus menahannya. Akhirnya dia putuskan untuk menurunkan barang bawaannya tersebut di lantai kapal. Setelah meletakkannya diapun merasa lebih baik dan nyaman.

----------------------------------
Sahabat tahukah kita kalo pengembara-pengembara itu adalah kita, sedangkan barang-barang bawaan adalah beban-beban kehidupan kita dan kapal besar itu adalah tawakal kepada Nya.

Teramat banyak dari kita yang begitu angkuh merasa diri sanggup memikul beban-beban kehidupan ini sendiri. Tanpa pernah sadar bahwa sebenarnya Allah telah menyediakan ruang besar tempat kita meletakan beban-beban kehidupan hidup kita yang teramat sangat berat itu.

Ruang besar itu bernama tawakal kepada Nya. Betapa naifnya kita jika merasa bahwa kita sanggup mengatasi setiap masalah kehidupan ini sendiri.

Seorang mukmin adalah orang yang cerdas dalam memahami kehidupan ini. Ia begitu mengenal karakteristik kehidupan ini yang penuh dengan cobaan dan rintangan, walaupun demikian ia juga telah sangat paham bahwa semua beban-beban itu tidak akan memberatkan kehidupannya jika ia meletakannya di tempat yang telah Allah SWT sediakan.

Seberat apaun beban yang di amanahkan Allah SWT kepada nya segera ia letakan di tempat bernama tawakal itu melalui sujud-sujud panjangnya, melalui kesitiqomahannya dalam beramal baik, melalui sedekah-sedekahnya, melalui munajatnya di sepertiga malam seraya dengan penuh semangat dan usaha yang optimal terus berusaha menjalani kehidupan ini.

Kalau kita mau jujur terhadap diri sendiri, pastinya kita akan sadar bahwa kita teramat lemah untuk menjalani kehidupan ini tanpa pertolonganNya. Jika kita merasa kuat lantas mengapa kita tidak dapat mengambil kembali sesuatu yang telah diamabil lalat dari makanan kita, mengapa kita tidak menahan nyawa orang yang kita sayangi ketika sakaratul mautnya, mengapa kita tidak bisa mengahadirkan kebahagian dan ketenangan jiwa kapan saja sesuka hati kita.

Jika semua kita dapat memahami kehidupan ini dengan baik. Kita dapat memahami bahwa Allah telah menyediakan ruang luas agar beban-beban kehidupan itu tidak memberatkan kita.

Maka tidak akan ada orang yang hari-harinya nya dipenuhi dengan bermuram durja, kita tidak kan mendengar banyaknya kabar seseorang mengakhiri kehidupannya dengan menggantung diri atau meminum racun hanya karena tidak dapat membayar hutang tiga ratus ribu rupiah yang harus dilunasinya, dan segala macam bentuk keputusasaan lainnya akibat tidak pernah memahami makna kehidupan ini.

Sobat, akankah kita masih tetap angkuh untuk terus memikul beban-beban kehidupan kita sendiri ataukah kita telah menyadari bahwa kita teramat lemah untu memikul beban-beban itu sendiri.

Sehingga kita akan segera meletakannya diruang yang Allah telah sediakan sipertiga malamnya, di sujud-sujud ketika menghadapNya, di majelis-majelis kebaikan hamba-hambaNya yang Shaleh. Tentunya hanya kita yang dapat menjawabnya.

sumber : http://www.eramuslim.com/oase-iman/kapal-besar-itu-bernama-tawakal.htm

Friday, June 26, 2009

Penting Untuk Memahami Sahabat

Yah….beginilah kenyataan dalam menghadapi hidup. Begitu indah keseimbangan yang telah diberikan oleh Allah swt. terhadap semua ciptaan-Nya. Kadang kita diberikan kesedihan untuk mengetahui betapa Allah swt sangat saying terhadap kita. Bahkan karuniaNya yang tiada terkira diberikan kepada kita juga merupakan perwujudan kecintaan dan kedekatan Allah kepada kita. Harusnya kita malu betapa dekatnya Allah dengan kita tetapi terkadang kita malah semakin menjauhinya. Memang sabar dan ikhlas adalah kunci yang paling cocok untuk mengatasi permasalahan yang ada pada diri kita. Ikhlas menerima apapun kondisi yang telah Allah berikan pada kita. Namun juga tidak menutup usaha kita untuk selalu berubah kearah yang lebih baik. Hidup adalah ujian. Memang kalau kita masih ingin bertahan hidup, kita harus bisa menghadapi ujian – ujian yang telah diberikan Allah kepada kita apapun bentuknya. Termasuk salah satunya dalam menghadapi sikap teman ataupun sahabat kita. “Sesama muslim adalah saudara” begitu Baginda Nabi Muhammad bersabda. Seyogyanya kita memang bisa memahami dan saling menyayangi terhadap saudara muslim kita. Bahkan dengan kata – kata sekalipun hendaknya kita tidak saling menyakiti. Fitrah manusia yang diciptakan dari latar belakang yang berbeda – beda dengan sikap, watak ataupun perilaku yang tidak sama, hendaknyalah kita rangkum dan ramu menjadi persatuan yang manis. Bukan menonjolkan perbedaan masing – masing, tetapi memadukan perbedaan itu untuk sebuah hiasan yang indah. Yang dapat memberikan warna bagi masyarakat sekitarnya ataupun dimana dia berada. Warna kesejukan, ketentraman, dan juga kehidupan yang penuh dengan cinta.

Persahabatan memang indah. Seindah sahabat – sahabat Rasul yang setia memperjuangan Al-Islam. Persahabatan terindah adalah apabila tertuju hanya untuk menggapai Ridho-Nya. Saling berhimpun untuk meneruskan risalah yang telah dibawa oleh kekasih-Nya. Yap…pasti hidup ini akan terasa damai dan penuh dengan kasih saying. Saling tolong menolong, saling memahami….apapun keadaannya. Kadang kala rasa egoisme dalam diri kita muncul untuk selalu ingin dipahami. Kita harus semaksimal mungkin meminimalisir pikiran tersebut ketika terbersit. Sebanyak – banyak nya kita memahami orang lain, InsyaAllah kita pun akan banyak dipahami tanpa kita minta. Allah Maha Tahu atas apa yang diperbuat oleh hamba-Nya. Tidak perlu kita takut atau bahkan ragu atas karunia-Nya.

Sebuah doa untuk sahabat :

Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati – hati ini telah berkumpul untuk mencurahkan mahabbah hanya kepada-Mu, bertemu untuk taat kepadamu, bersatu dalam rangka menyeru (dakwah di jalan)-Mu, maka kuatkanlah ikatan pertaliannya, Ya Allah, abadikanlah kasih sayangnya, tunjukanlah jalannya, dan penuhilah dengan cahaya-Mu yang tidak akan pernah redup, lapangkanlah dadanya dengan limpahan iman dan keindahan tawakal kepada-Mu, hidupkanlah dengan ma’rifah-Mu, dan matikanlah dalam keadaan syahid di Jalan-Mu. Sesungguhnya Engkau sebaik – baik penolong. Amin. Dan semoga shalawat serta salam selalu tercurahkan kepada Muhammad, kepada keluarganya, dan kepada semua sahabatnya.