Showing posts with label Inspiring. Show all posts
Showing posts with label Inspiring. Show all posts

Tuesday, January 08, 2013

Belajar dari Moshe Kai Cavalin

Seperti biasa jika weekend tiba, hasrat untuk membeli buku tiba - tiba muncul. Tadinya hal yang terpikir saat nanti tiba di Gramedia adalah membeli buku The Greatness of Al-Andalus namun pada saat tiba di sana, buku tersebut out of stock. Ya sudah deh akhirnya muter - muter cari buku - buku yang menarik hati pada saat itu.
Rupanya pada saat berkeliling mencari buku, muncul sebuah azzam kembali bahwa habbit membaca harus muncul lagi dan suatu saat harus bisa menjadi penulis seperti mereka yang mampu memberikan inspirasi kepada jutaan manusia lainnya ( Waow... :D). Tak lama kemudian, pandangan mata tertuju pada buku baru yang dipajang paling depan berjudul "Ditolak di Sekolah Formal, Lulus Kuliah Umur 11 Tahun dengan IPK 4!".
Membaca judul buku tersebut awalnya biasa saja. Mungkin seperti kebanyakan anak - anak lainnya yang dilahirkan dengan IQ Super alias Jenius. Tapi saya masih memaksakan diri untuk membuka secara singkat isi buku tersebut dan ternyata jeng..jeng...diluar perkiraan. He is an ordinary people with a strategy and goal in life. Dia memang mengatakan itu berkali - kali dalam bukunya. Bahwa dia adalah anak biasa seperti pada umumnya dan bukanlah anak jenius.

Sunday, January 23, 2011

Pengusaha Muda dan Mandiri, Why Not ?

Kagum dan tercengang, perasaan itu aku rasakan saat memasuki area pameran Wirausaha Mandiri di JCC Jakarta, tanggal 22 Januari 2011. Mereka begitu sangat muda dengan rata-rata usia berada di bawah usiaku. Tampak stand mereka berada di Hall depan setelah pintu masuk. Merekalah orang - orang cerdas menurutku. Orang yang pandai dan memanfaatkan kepandaiannya itu. Bagaimana tidak ? pada usia yang rata-rata masih belia, mereka mampu memberdayakan diri sendiri bahkan orang lain. Mereka memiliki visi yang jauh kedepan. Tidak hanya menjadi orang pandai di sekolah kemudian lulus mendapatkan pekerjaan, tetapi mereka memiliki tatapan bagaimana Negeri yang mereka cinta ini bisa maju dan bersaing dengan indikasi masyarakat yang makmur dan sejahtera.
Mereka melakukan langkah nyata tidak hanya omong kosong atau teriakan kencang yang tak berarti. Apa yang mereka bisa lakukan mereka lakukan sesuai dengan background dan passion masing-masing. Nyata, tidak semu atau sekedar impian. Ada langkah - langkah riil yang dilakukan untuk mewujudkan impian itu menjadi nyata.

Saturday, January 08, 2011

Kesuksesan Setara dengan Usaha dan Do'a

Sahabatku, banyak diantara kita yang beranggapan bahwa orang yang terkaya no. 1 di dunia saat ini, artis papan atas yang ternama, atlet yang sukses menginspirasi banyak orang adalah karena faktor keberuntungan. Memang benar, namun keberuntungan selalu sejalan dengan seberapa jauh upaya untuk mencapainya. Kita melihat mereka beruntung dari kacamata sekarang. Coba kita tengok perjalanan mereka dari awal perjuangan. Ternyata tidak ada yang instant.
Sekali mereka gagal, mereka mencoba lagi untuk bangkit. 100 kali mereka mencoba dan mungkin 99 kali mereka gagal dan akhirnya berhasil.
Jika 1 kali mereka gagal dan menyerah, apa yang akan terjadi ? tidak seperti apa yang kita lihat sekarang dan boleh jadi kita beranggapan bahwa mereka kurang beruntung.
Tuhan tidak pernah tidur dan terlupa atas usaha 'baik' yang kita lakukan. Tuhan tidak pernah lupa memberikan kita imbalan 'terbaik' karena Tuhan tahu apa yang terbaik buat kita.

Wednesday, November 10, 2010

Sosok Pemuda Ideal di Mata Allah

Ilustrasi
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Kata-kata pemuda dalam Alquran diistilahkan dengan fatan, seperti firman Allah SWT pada surah al-Anbiya [21] ayat 60 tentang pemuda Ibrahim. "Mereka berkata, 'Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim'."

Bentuk jamak dari fatan adalah fityah (pemuda-pemuda), seperti kisah pemuda-pemuda Ashabul Kahfi pada surah al-Kahfi [18] ayat 13. "Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya, mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk."

Tuesday, November 09, 2010

Belajar pada anak kecil

Sembari menunggu adzan di Musholla Al-Khomariyah, Kampung Lima, Modernland, aku berdiri tepat di depan jendela Musholla. Nampak diluar anak-anak sedang asyik bercengkrama satu sama lain. Mereka sungguh tidak menampakkan rasa iri, dengki atau ingin menyakiti sesama teman-temannya.
Terlihat dari tempat dimana aku berdiri, anak yang tiduran di shofa luar rumah sambil menggendong gemas kucing kecil.

Sunday, October 24, 2010

Pengasong Kota Modern

(Ilustrasi)
Sayup adzan isya' terdengar membahana di seantero Kota Tangerang. Termasuk di Lake a View Kost (Biasa aku menyebut tempatku bermukim). Bergegas aku menuju Musholla tidak jauh dari tempat kost ku. Nampak di Musholla sudah berdatangan jamaah dari warga sekitar. Tidak berbeda dengan hari - hari sebelumnya, hanya orang itu - itu saja yang kutemui ketika sholat berjamaah di Musholla tersebut.
Ketika berdiri sesaat setelah iqomah berkumandang, pandanganku tertuju pada lelaki setengah baya yang tergesa memasuki Musholla dengan membawa dagangan asongan nampak tidak ingin ketinggalan jamaah.

Friday, October 22, 2010

Fase itu telah aku lalui

Sidang skripsi sudah menjadi bagian dari perjalanan hidup seorang Mahasiswa di kampus untuk menempuh satu tahap lagi menuju kelulusan. Alhamdulillah aku telah melaluinya dengan berbagai kemudahan yang diberikan oleh Allah swt.
Fase yang dianggap sangat menyeramkan bagi sebagian orang, ternyata tidak sebegitu parah adanya. Malah lebih seperti bincang - bincang akrab antara dosen dan mahasiswa yang begitu ingin saling mengenal satu sama lain :D. Tidak ada yang menyeramkan kecuali pada saat membuka pintu dan palu diketuk, karena aku sangat kaget.
Sungguh diakui bahwa ketika pertama kali membuka pintu, ada perasaan jantung ini berdegup dengan kencang karena semua mata memandang padaku seperti elang yang melihat makhluk mungil untuk dijadikan makan siangnya.

Wednesday, August 18, 2010

Model Bisnis Horisontal Ala Google

Oleh : Yuswohady
Beberapa waktu lalu saya diundang oleh Young Professional Caring Award (YPCA 2010) Caring Colors Martha Tilaar Group (MTG) untuk mengunjungi kantor Google South East Asia di Singapura. Saya diundang ke markas Google dalam rangka mendampingi para pemenang YPCA 2010. YPCA 2010 adalah event yang diselenggarakan oleh Caring Colors MTG untuk memilih ambasador di kalangan profesional yang berprestasi di bidang profesinya masing-masing; ada manajer perusahaan besar, penulis/wartawan, social media entrepeneur, pegawai pemerintah, bahkan guru TK.

Thursday, August 13, 2009

Mengapa Kemampuan Belajar Kita Menurun Drastis?

Hore,

Hari Baru!

Teman-teman.

Salah satu kemunduran yang kita alami seiring dengan bertambahnya umur adalah; berkurangnya kemampuan kita dalam belajar. Kalau kita berusaha untuk menghafal sesuatu misalnya, hafalan kita hanya bertahan beberapa jam saja. Atau, paling lama dalam hitungan hari. Setelah itu, kita lupa lagi, seolah tidak pernah melewati proses menghafal tadi. Selama ini kita percaya bahwa menurunnya kemampuan kita dalam belajar ada kaitannya dengan penurunan kemampuan otak kita. Oleh karena itu, orang-orang dewasa seperti kita selalu mempunyai cukup alasan untuk diberi belas kasihan. Jadi, "harap dimaklumi saja jika orang dewasa seperti kami ini agak 'telmi'". Tetapi, apakah penurunan kemampuan kita dalam menyerap ilmu itu benar-benar disebabkan oleh penurunan kemampuan otak, ataukah karena kurangnya antusiasme kita dalam belajar?


Baru-baru ini, saya mendapatkan kesempatan untuk berbicara dalam sebuah forum yang berkaitan dengan acara familiy gathering sebuah perusahaan. Tidak banyak waktu yang disediakan bagi saya. Hanya 45 menit saja. Namun, meski sangat singkat; sesi itu sangat spesial bagi saya. Sebab, audience yang hadir disana terdiri dari anak-anak, remaja hingga pimpinan puncak perusahaan. Berbicara diforum orang dewasa memang merupakan pekerjaan saya. Bagaimana dengan anak-anak? Itu juga bukan masalah, karena semasa kuliah dulu, saya ikut mengabdikan diri untuk menjadi mentor bagi anak-anak TK, SD, dan SMP di PAS-ITB. Not, that hard to deal with, actually. Tetapi...., masalahnya adalah; sekarang kedua tipe audience itu digabungkan dalam satu forum dimana saya harus menyampaikan pesan penting bagi semua. That's quite a challenge.


Saya tidak melebih-lebihkan ketika mengatakan bahwa anak-anak dalam forum yang saya fasilitasi itu begitu antusias dan cerdas. Mereka mengerumuni saya, serta menjawab pertanyaan-pertanya an yang saya lontarkan dengan penuh semangat. Dan cara mereka menjawab; bukan main, seolah mereka menggunakan semua energi yang dimilikinya. Mereka mengangkat tangan, melompat, dan berteriak. Tidak heran kalau pada usia seperti mereka, manusia bisa mencapai tingkat efisiensi proses belajar yang paling tinggi.


Sesaat setelah menyelesaikan sesi itu, saya kembali merenungkan satu hal, yaitu; betapa mengagumkannya semangat belajar anak-anak dalam forum itu. Dan menengok kembali kebelakang ketika saya masih menjadi pembina PAS-ITB dulu, saya kira; memang demikianlah adanya anak-anak. Mereka memiliki semangat belajar yang teramat sangat tinggi. Sampai-sampai, mereka membuntuti kemanapun saya pergi selama sesi itu.


Sampai disini, saya kembali tersadarkan, bahwa; kita para lelaki dan perempuan dewasa telah kehilangan antusiasme dalam belajar. Padahal, dahulu kala kita adalah little boys dan little girls yang pernah memiliki antusiasme itu. Dulu, kita seperti anak-anak kecil itu; dimana ketika kepada kita disampaikan sebuah pesan berisi pelajaran berharga dan nilai-nilai luhur; kita begitu bersemangatnya untuk menyerap seluruh ilmu itu. Dulu, kita seperti anak-anak kecil itu; dimana ketika kepada kita diajukan sebuah tantangan untuk melakukan sesuatu kita saling berebut untuk mengajukan diri, sambil mengangkat tangan dan terteriak; "Saya Pak Guru! Saya Pak Guru!" seolah kita tengah berlomba dengan teman-teman agar dipilih sang guru untuk melakukan tugas didepan kelas. Dulu, kita seperti anak-anak kecil itu; dimana ketika kita tidak mengerti tentang sesuatu kita segera mengangkat tangan dan bertanya; "Bu Guru, itu maksudnya apa?" tanpa khawatir ditertawakan oleh teman-teman sekelas.


Sekarang, kita sudah tidak seperti anak-anak kecil itu lagi, dimana kita sering kehilangan gairah untuk menerima masukan yang berisi pelajaran-pelajaran berharga. Sekarang, kita sudah tidak seperti anak-anak kecil itu lagi, dimana ketika kita ditantang untuk melakukan sesuatu kita bersembunyi sambil menunjuk-nunjuk teman kita; "kamu saja, kamu saja..." Sekarang, kita sudah tidak seperti anak-anak kecil itu lagi, dimana ketika kita tidak mengerti sesuatu kita memendamnya dalam hati seolah terbebani oleh stigma orang lain, bahwa; "Jika bertanya, maka kita menunjukkan betapa bodohnya kita". Padahal, kita tahu bahwa kebodohan itu sangat memalukan. Jadi, kita memilih untuk berpura-pura tahu; daripada menanggung resiko dikira bodoh.


Oleh karena itu, tidak heran jika semakin tua; semakin berkurang kemampuan kita dalam belajar dan mengambil hikmah. Padahal, hikmah dan pelajaran itu berserakan disekitar kita. Namun kita sudah kehilangan kemampuan untuk menerimanya. Mencernanya. Dan meresapinya. Tiba-tiba saja; saya merindukan masa-masa ketika saya masih kecil dulu. Masa dimana saya begitu bersemangatnya. Untuk. Mempelajari. Segala sesuatu.


Mari Berbagi Semangat!

Dadang Kadarusman

Natural Intelligence & Mental Fitness Learning Facilitator

http://www.dadangkadarusman. com/

Talk Show setiap Jumat jam 06.30-07.30 di 103.4 DFM Radio Jakarta


Catatan Kaki:

Berkurangnya kemampuan kita dalam belajar dan menyerap ilmu tidak disebabkan oleh menurunnya kemampuan otak kita; melainkan oleh memburuknya sikap mental kita, ketika menjalani proses belajar itu.


Melalui project Mari Berbagi Semangat! (MBS!) sekarang buku saya yang berjudul "Belajar Sukses Kepada Alam" versi Bahasa Indonesia dapat diperoleh secara GRATIS. Jika Anda ingin mendapatkan ebook tersebut secara gratis silakan perkenalkan diri disertai dengan alamat email kantor dan email pribadi (yahoo atau gmail) lalu kirim ke bukudadang@yahoo. com

Friday, May 15, 2009

Perjuangan itu...

Hidup tanpa arah sama artinya kita berjalan tanpa tujuan. Terus dan terus tanpa pernah tau kapan dan dimana harus sampai. Begitu menyadari dalam hidup ini harus ada suatu tujuan yang ditempuh, diri ini harus segera berbenah untuk menetapkan "impian" yang kita akan coba akan raih. Sehingga setiap langkah yang kita lakukan akan senantiasa terarah karena berujung pada tujuan yang jelas.
Berangkat dari manusia yang terlahir di pedesaan dengan suasana penuh kekeluargaan meski terbatas akan pemahaman mengenai cita-cita, tetapi dalam diri ini selalu tersembunyi dorongan yang kuat untuk berbeda dengan orang lain dan sama dengan orang - orang yang sukses. Banyak omongan dan pandangan orang yang menilai bahwa jangan bermimpi terlalu tinggi nanti saat terjatuh akan sakit.
Dorongan yang kuat itu semakin menjadi ketika usai dari serangkaian pendidikan formal hingga 12 tahun. Saat itu...saat dimana kita berada dalam pilihan untuk masa depan kita. Bayangkan saja ketika kita harus memilih dan menentukan, kita masih bingung apa yang akan kita pilih dan kita tentukan.
Jelas opsi tetap ada di tangan kita sendiri. Kita yang bertanggung jawab terhadap masa depan kita. Saat itu dorongan yang kuat itu mengatakan bahwa "raih impianmu" bersama indahnya sebuah perjuangan. Saat itu sirna semua ketakutan hingga diri ini berani untuk meninggalkan keluarga merantau ke ranah orang lain. Yah..seperti layaknya orang kampung pergi ke kota, memang belum banyak perubahan perilaku. Masih seperti kebanyakan orang yang berkeinginan untuk mendapat pekerjaan yang layak usai selesai di Perguruan Tinggi Kedinasan.
Enam bulan berjalan, akhirnya kutemukan makna perjuangan itu...

[Bersambung...]

Tuesday, February 03, 2009

Sahabat Ku....(Part 01)

Sahabat buat ku adalah orang yang bersedia berbagi baik dalam suka dan duka. dia akan merasa bahagia manakala melihat kita bahagia. dia akan support kita untuk merubah kearah yang lebih baik.

Selama diperantauan (biasalah anak kost yang bermimpi menjadi orang yang sukses :D), Aku mengerti benar akan arti sahabat. Bener kata
Sindentosca, "persahabatan bagai kepompong mengubah ulat menjadi kupu - kupu, Maklumi teman hadapi perbedaan", mempunyai sahabat berarti ada pengganti keluarga kita saat kita jauh dari rumah. bahkan terkadang lebih dekat dari pada keluarga kita yang nun jauh dikampung halaman (ya iyalah..secara jaraknya juga beda).

sahabat ku yang menjadi keluarga ku, adek buat ku mempunyai semangat dan cita - cita yang mirip sekali. memang banyak persamaan - persamaan pada kami, khususnya tentang cita - cita kedepan. Namun banyak juga perbedaan yang membuat kami terkadang harus berselisih pendapat bahkan berantem.
Sebuah kewajaran memang, yang namanya kita kumpul ama manusia, pasti kadang ada kecocokan dan perbedaan, sunnatullah.

Biasa ku sebut sabahat ku ini ade'. Yap memang dalam keseharian kita sudah seperti ade' kaka' yang begitu akrab. sampe - sampe urusan makan, bayar kuliah de-el-el kita saling bantu, meng-cover satu sama lain jikalau ada yang kekurangan.

Tidak hanya terbatas pada masing - masing individu, bahkan keluarga kami pun sangat akrab. Sempat beberapa kali sohibku ini menyempatkan untuk main ke kampung halaman ku, tetangga Bali (he..he..), begitupun sebaliknya aku.
Sejauh ini aku mengucap syukur yang teramat sangat karena Allah swt. telah mempertemukan ku dengan sahabat yang terbaik buat ku. Semoga persahabatan ini menjadikan kita senantiasa berubah lebih baik.

Thanks...Janu Iham, dan Ade' Imam...(semoga kalian selalu dalam lindungan Allah Swt. dan tercapai apa yang kalian cita- citakan).


Tuesday, November 06, 2007

Yu Yuan Story ........

Kisah tentang seorang gadis kecil yang cantik yang memiliki sepasang bola
mata yang indah dan hati yang lugu polos. Dia adalah seorang yatim piatu dan
hanya sempat hidup di dunia ini selama delapan tahun. Satu kata terakhir yang ia
tinggalkan adalah saya pernah datang dan saya sangat penurut.
Anak ini rela melepasakan pengobatan, padahal sebelumnya dia telah memiliki
dana pengobatan sebanyak 540.000 dolar yang didapat dari perkumpulan orang Chinese
seluruh dunia. Dan membagi dana tersebut menjadi tujuh bagian, yang dibagikan
kepada tujuh anak kecil yang juga sedang berjuang menghadapi kematian. Dan dia rela melepaskan pengobatannya.

Begitu lahir dia sudah tidak mengetahui siapa orang tua kandungnya.
Dia hanya memiliki seorang papa yang mengadopsinya. Papanya berumur 30 tahun
yang bertempat tinggal di provinsi She Cuan kecamatan Suang Liu, kota Sang Xin
Zhen Yun Ya Chun Er Cu. Karena miskin, maka selama ini ia tidak menemukan pasangan hidupnya. Kalau masih harus mengadopsi anak kecil ini, mungkin tidak
ada lagi orang yang mau dilamar olehnya. Pada tanggal 30 November 1996, tgl
20 bln 10 imlek, adalah saat dimana papanya menemukan anak kecil tersebut diatas
hamparan rumput, disanalah papanya menemukan seorang bayi kecil yang sedang
kedinginan. Pada saat menemukan anak ini, di dadanya terdapat selembar kartu
kecil tertulis, 20 November jam 12.

Melihat anak kecil ini menangis dengan suara tangisannya sudah mulai melemah.
Papanya berpikir kalau tidak ada orang yang memperhatikannya, maka kapan
saja bayi ini bisa meninggal. Dengan berat hati papanya memeluk bayi tersebut,
dengan menghela nafas dan berkata, "saya makan apa, maka kamu juga ikut apa yang
saya makan". Kemudian papanya memberikan dia nama Yu Yan.

Ini adalah kisah seorang pemuda yang belum menikah yang membesarkan seorang
anak, tidak ada Asi dan juga tidak mampu membeli susu bubuk, hanya mampu
memberi makan bayi tersebut dengan air tajin (air beras). Maka dari kecil anak ini
tumbuh menjadi lemah dan sakit-sakitan. Tetapi anak ini sangat penurut dan
sangat patuh. Musim silih berganti, Yu Yuan pun tumbuh dan bertambah besar
serta memiliki kepintaran yang luar biasa. Para tetangga sering memuji Yu Yuan
sangat pintar, walaupun dari kecil sering sakit-sakitan dan mereka sangat menyukai
Yu Yuan. Ditengah ketakutan dan kecemasan papanya, Yu Yuan pelan-pelan tumbuh dewasa.
Yu Yuan yang hidup dalam kesusahan memang luar biasa, mulai dari umur
lima tahun, dia sudah membantu papa mengerjakan pekerjaan rumah. Mencuc baju,
memasak nasi dan memotong rumput. Setiap hal dia kerjakan dengan baik. Dia
sadar dia berbeda dengan anak-anak lain. Anak-anak lain memiliki sepasang orang
tua, sedangkan dia hanya memiliki seorang papa. Keluarga ini hanya mengandalkan
dia dan papa yang saling menopang. Dia harus menjadi seorang anak yang penurut
dan tidak boleh membuat papa menjadi sedih dan marah.



Pada saat dia masuk sekolah dasar, dia sendiri sudah sangat mengerti, harus
giat belajar dan menjadi juara di sekolah. Inilah yang bisa membuat papanya yang
tidak berpendidikan menjadi bangga di desanya. Dia tidak pernah
mengecewakan papanya, dia pun bernyanyi untuk papanya. Setiap hal yang lucu yang terjadi
di sekolahnya di ceritakan kepada papanya. Kadang-kadang dia bisa nakal dengan
mengeluarkan soal-soal yang susah untuk menguji papanya.

Setiap kali melihat senyuman papanya, dia merasa puas dan bahagia. Walaupun
tidak seperti anak-anak lain yang memiliki mama, tetapi bisa hidup bahagia
dengan papa, ia sudah sangat berbahagia.

Mulai dari bulan Mei 2005 Yu Yuan mulai mengalami mimisan. Pada suatu
pagi saat Yu Yuan sedang mencuci muka, ia menyadari bahwa air cuci mukanya
sudah penuh dengan darah yang ternyata berasal dari hidungnya. Dengan berbagai
cara tidak bisa menghentikan pendarahan tersebut. Sehingga papanya membawa Yu
Yuan ke puskesmas desa untuk disuntik. Tetapi sayangnya dari bekas suntikan itu
juga mengerluarkan darah dan tidak mau berhenti. Dipahanya mulai bermunculan
bintik-bintik merah. Dokter tersebut menyarankan papanya untuk membawa Yu Yuan
ke rumah sakit untuk diperiksa. Begitu tiba di rumah sakit, Yu Yuan tidak
mendapatkan nomor karena antrian sudah panjang. Yu Yuan hanya bisa
duduk sendiri dikursi yang panjang untuk menutupi hidungnya. Darah yang
keluar dari hidungnya bagaikan air yang terus mengalir dan memerahi lantai. Karena
papanya merasa tidak enak kemudian mengambil sebuah baskom kecil untuk
menampung darah yang keluar dari hidung Yu Yuan. Tidak sampai sepuluh menit, baskom
yang kecil tersebut sudah penuh berisi darah yang keluar dari hidung Yu Yuan.

Dokter yang melihat keadaaan ini cepat-cepat membawa Yu Yuan untuk
diperiksa. Setelah diperiksa, dokter menyatakan bahwa Yu Yuan terkena Leukimia ganas.
Pengobatan penyakit tersebut sangat mahal yang memerlukan biaya sebesar
300.000$. Papanya mulai cemas melihat anaknya yang terbaring lemah di ranjang.
Papanya hanya memiliki satu niat yaitu menyelamatkan anaknya. Dengan berbagai cara meminjam uang kesanak saudara dan teman dan ternyata, uang yang terkumpul sangatlah
sedikit. Papanya akhirnya mengambil keputusan untuk menjual rumahnya yang merupakan
harta satu satunya. Tapi karena rumahnya terlalu kumuh, dalam waktu yang singkat
tidak bisa menemukan seorang pembeli.

Melihat mata papanya yang sedih dan pipi yang kian hari kian kurus. Dalam
hati Yu Yuan merasa sedih. Pada suatu hari Yu Yuan menarik tangan papanya, air
mata pun mengalir dikala kata-kata belum sempat terlontar. "Papa saya ingin
mati". Papanya dengan pandangan yang kaget melihat Yu Yuan, "Kamu baru berumur 8
tahun kenapa mau mati". "Saya adalah anak yang dipungut, semua orang berkata
nyawa saya tak berharga, tidaklah cocok dengan penyakit ini, biarlah saya keluar
dari rumah sakit ini."

Pada tanggal 18 juni, Yu Yuan mewakili papanya yang tidak mengenal huruf,
menandatangani surat keterangan pelepasan perawatan. Anak yang berumur
delapan tahun itu pun mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan pemakamannya
sendiri. Hari itu juga setelah pulang kerumah, Yu Yuan yang sejak kecil tidak pernah memiliki permintaan, hari itu meminta dua permohonan kepada papanya. Dia ingin memakai baju baru dan berfoto. Yu Yuan berkata kepada papanya: "Setelah saya tidak ada,
kalau papa merindukan saya lihatlah melihat foto ini".
Hari kedua, papanya menyuruh bibi menemani Yu Yuan pergi ke kota dan membeli baju baru. Yu Yuan sendirilah yang memilih baju yang dibelinya. Bibinya memilihkan satu rok
yang berwarna putih dengan corak bintik-bintik merah. Begitu mencoba dan tidak
rela melepaskannya. Kemudian mereka bertiga tiba di sebuah studio foto. Yu Yuan kemudian memakai baju barunya dengan pose secantik mungkin berjuang untuk
tersenyum. Bagaimanapun ia berusaha tersenyum, pada akhirnya juga tidak
bisa menahan air matanya yang mengalir keluar. Kalau bukan karena seorang
wartawan Chuan Yuan yang bekerja di surat kabar Cheng Du Wan Bao, Yu Yuan akan
seperti selembar daun yang lepas dari pohon dan hilang ditiup angin.

Setelah mengetahui keadaan Yu Yuan dari rumah sakit, Chuan Yuan kemudian menuliskan sebuah laporan, menceritakan kisah Yu Yuan secara detail. Cerita tentang anak yg berumur 8 tahun mengatur pemakamakannya sendiri dan akhirnya menyebar keseluruh kota Rong Cheng. Banyak orang-orang yang tergugah oleh seorang anak kecil yang sakit ini, dari ibu kota sampai satu Negara bahkan sampai keseluruh dunia. Mereka mengirim email ke seluruh
dunia untuk menggalang dana bagi anak ini". Dunia yang damai ini menjadi suara panggilan yang sangat kuat bagi setiap orang.

Hanya dalam waktu sepuluh hari, dari perkumpulan orang Chinese didunia saja
telah mengumpulkan 560.000 dolar. Biaya operasi pun telah tercukupi. Titik
kehidupan Yu Yuan sekali lagi dihidupkan oleh cinta kasih semua orang.

Setelah itu, pengumuman penggalangan dana dihentikan tetapi dana terus
mengalir dari seluruh dunia. Dana pun telah tersedia dan para dokter sudah
ada untuk mengobati Yu Yuan. Satu demi satu gerbang kesulitan pengobatan juga
telah dilewati. Semua orang menunggu hari suksesnya Yu Yuan.

Ada seorang teman di-email bahkan menulis: "Yu Yuan anakku yang tercinta
saya mengharapkan kesembuhanmu dan keluar dari rumah sakit. Saya mendoakanmu
cepat kembali ke sekolah. Saya mendambakanmu bisa tumbuh besar dan sehat. Yu Yuan
anakku tercinta."

Pada tanggal 21 Juni, Yu Yuan yang telah melepaskan pengobatan dan
menunggu kematian akhirnya dibawa kembali ke ibu kota. Dana yang sudah
terkumpul, membuat jiwa yang lemah ini memiliki harapan dan alasan untuk
terus bertahan hidup. Yu Yuan akhirnya menerima pengobatan dan dia sangat
menderita didalam sebuah pintu kaca tempat dia berobat. Yu Yuan kemudian berbaring di
ranjang untuk diinfus. Ketegaran anak kecil ini membuat semua orang kagum
padanya. Dokter yang menangani dia, Shii Min berkata, dalam perjalanan
proses terapi akan mendatangkan mual yang sangat hebat. Pada permulaan terapi Yu
Yuan sering sekali muntah. Tetapi Yu Yuan tidak pernah mengeluh. Pada saat
pertama kali melakukan pemeriksaan sumsum tulang belakang, jarum suntik ditusukkan
dari depan dadanya, tetapi Yu Yuan tidak menangis dan juga tidak berteriak,
bahkan tidak meneteskan air mata. Yu yuan yang dari dari lahir sampai maut
menjemput tidak pernah mendapat kasih sayang seorang ibu. Pada saat dokter Shii Min menawarkan Yu Yuan untuk menjadi anak perermpuannya. Air mata Yu Yuan pun
mengalir tak terbendung.

Hari kedua saat dokter Shii Min datang, Yu Yuan dengan malu-malu
memanggil dengan sebutan Shii Mama. Pertama kalinya mendengar suara itu,
Shii Min kaget, dan kemudian dengan tersenyum dan menjawab, "Anak yang baik".
Semua orang mendambakan sebuah keajaiban dan menunggu momen dimana Yu Yuan hidup
dan sembuh kembali. Banyak masyarakat datang untuk menjenguk Yu Yuan dan banyak
orang menanyakan kabar Yu Yuan dari email. Selama dua bulan Yu Yuan
melakukan terapi dan telah berjuang menerobos sembilan pintu maut. Pernah mengalami pendarahan dipencernaan dan selalu selamat dari bencana. Sampai akhirnya darah putih
dari tubuh Yu Yuan sudah bisa terkontrol. Semua orang-orang pun menunggu kabar baik dari kesembuhan Yu Yuan.

Tetapi efek samping yang dikeluarkan oleh obat-obat terapi sangatlah
menakutkan, apalagi dibandingkan dengan anak-anak leukemia yang lain.
Fisik Yu Yuan jauh sangat lemah. Setelah melewati operasi tersebut fisik Yu Yuan semakin lemah.

Pada tanggal 20 agustus, Yu Yuan bertanya kepada wartawan Fu Yuan: "Tante
kenapa mereka mau menyumbang dana untuk saya? Tanya Yu Yuan kepada wartawan
tersebut.
Wartawan tersebut menjawab, karena mereka semua adalah orang yang baik
hati". Yu Yuan kemudia berkata : "Tante saya juga mau menjadi orang yang baik hati".
Wartawan itupun menjawab, "Kamu memang orang yang baik. Orang baik harus
saling membantu agar bisa berubah menjadi semakin baik". Yu yuan dari bawah bantal
tidurnya mengambil sebuah buku, dan diberikan kepada ke Fu Yuan. "Tante ini
adalah surat wasiat saya."

Fu yuan kaget, sekali membuka dan melihat surat tersebut ternyata Yu Yuan telah mengatur tentang pengaturan pemakamannya sendiri. Ini adalah
seorang anak yang berumur delapan tahun yang sedang menghadapi sebuah kematian dan
diatas ranjang menulis tiga halaman surat wasiat dan dibagi menjadi enam
bagian, dengan pembukaan, tante Fu Yuan, dan diakhiri dengan selamat tinggal tante
Fu Yuan.

Dalam satu artikel itu nama Fu Yuan muncul tujuh kali dan masih ada
sembilan sebutan singkat tante wartawan. Dibelakang ada enam belas
sebutan dan ini adalah kata setelah Yu Yuan meninggal. Tolong,....... Dan
dia juga ingin menyatakan terima kasih serta selamat tinggal kepada orang-
orang yang selama ini telah memperhatikan dia lewat surat kabar. "Sampai jumpa
tante, kita berjumpa lagi dalam mimpi. Tolong jaga papa saya. Dan sedikit dari dana
pengobatan ini bisa dibagikan kepada sekolah saya. Dan katakana ini juga
pada pemimpin palang merah. Setelah saya meninggal, biaya pengobatan itu
dibagikan kepada orang-orang yang sakit seperti saya. Biar mereka lekas sembuh".
Surat wasiat ini membuat Fu Yuan tidak bisa menahan tangis yang membasahi
pipinya.

Saya pernah datang, saya sangat patuh, demikianlah kata-kata yang keluar
dari bibir Yu Yuan. Pada tanggal 22 agustus, karena pendarahan
dipencernaan hampir satu bulan, Yu Yuan tidak bisa makan dan hanya bisa
mengandalkan infus untuk bertahan hidup. Mula mulanya berusaha mencuri
makan, Yu Yuan mengambil mie instant dan memakannya. Hal ini membuat pendarahan di
pencernaan Yu Yuan semakin parah. Dokter dan perawat pun secepatnya
memberikan pertolongan darurat dan memberi infus dan transfer darah setelah melihat
pendarahan Yu Yuan yang sangat hebat. Dokter dan para perawat pun ikut
menangis.
Semua orang ingin membantu meringankan pederitaannya. Tetapi tetap tidak
bisa membantunya. Yu Yuan yang telah menderita karena penyakit tersebut
akhirnya meninggal dengan tenang. Semua orang tidak bisa menerima
kenyataan ini melihat malaikat kecil yang cantik yang suci bagaikan air.
Sungguh telah pergi kedunia lain.

Dikecamatan She Chuan, sebuah email pun dipenuhi tangisan menghantar
kepergian Yu Yuan. Banyak yang mengirimkan ucapan turut berduka cita
dengan karangan bunga yang ditumupuk setinggi gunung. Ada seorang pemuda
berkata dengan pelan "Anak kecil, kamu sebenarnya adalah malaikat kecil diatas
langit, kepakanlah kedua sayapmu. Terbanglah..............." demikian kata-kata
dari seorang pemuda tersebut.
Pada tanggal 26 Agustus, pemakaman Yu Yuan dilaksanakan saat hujan gerimis.
Didepan rumah duka, banyak orang-orang berdiri dan menangis mengantar
kepergian Yu Yuan. Mereka adalah papa mama Yu Yuan yang tidak dikenal oleh Yu Yuan
semasa hidupnya. Demi Yu Yuan yang menderita karena leukemia dan melepaskan
pengobatan demi orang lain, maka datanglah papa mama dari berbagai daerah yang diam-diam mengantarkan kepergian Yu Yuan.

Didepan kuburannya terdapat selembar foto Yu Yuan yang sedang tertawa.
Diatas batu nisannya tertulis, "Aku pernah datang dan aku sangat patuh" (30
nov 1996- 22 agus 2005). Dan dibelakangnya terukir perjalanan singkat riwayat
hidup Yu Yuan. Dua kalimat terakhir adalah disaat dia masih hidup telah menerima
kehangatan dari dunia. Beristirahatlah gadis kecilku, nirwana akan menjadi
lebih ceria dengan adanya dirimu.

Sesuai pesan dari Yu Yuan, sisa dana 540.000 dolar tersebut disumbangkan
kepada anak-anak penderita luekimia lainnya. Tujuh anak yang menerima bantuan dana
Yu Yuan itu adalah : Shii Li, Huang Zhi Qiang, Liu Ling Lu, Zhang Yu Jie, Gao
Jian, Wang Jie. Tujuh anak kecil yang kasihan ini semua berasal dari keluarga
tidak mampu. Mereka adalah anak-anak miskin yang berjuang melawan kematian.

Pada tanggal 24 September, anak pertama yang menerima bantuan dari Yu Yuan di rumah sakit Hua Xi berhasil melakukan operasi. Senyuman yang mengambang pun terlukis diraut wajah anak tersebut. "Saya telah menerima
bantuan dari kehidupan Anda, terima kasih adik Yu Yuan kamu pasti sedang melihat
kami diatas sana. Jangan risau, kelak di batu nisan, kami juga akan mengukirnya
dengan kata-kata "Aku pernah datang dan aku sangat patuh".

Kesimpulan:
Demikianlah sebuah kisah yang sangat menggugah hati kita. Seorang anak
kecil yang berjuang bertahan hidup dan akhirnya harus menghadapi kematian
akibat sakit yang dideritanya. Dengan kepolosan dan ketulusan serta baktinya
kepada orang tuanya, akhirnya mendapatkan respon yang luar biasa dari kalangan
Dunia. Walaupun hidup serba kekuarangan, Dia bisa memberikan kasihnya terhadap
sesama. Inilah contoh yang seharusnya kita pun mampu melakukan hal yang sama,
berbuat sesuatu yang bermakna bagi sesama, memberikan sedikit kehangatan dan
perhatian kepada orang yang membutuhkan. Pribadi dan hati seperti inilah yang
dinamakan pribadi seorang Pengasih.