Rupanya pada saat berkeliling mencari buku, muncul sebuah azzam kembali bahwa habbit membaca harus muncul lagi dan suatu saat harus bisa menjadi penulis seperti mereka yang mampu memberikan inspirasi kepada jutaan manusia lainnya ( Waow... :D). Tak lama kemudian, pandangan mata tertuju pada buku baru yang dipajang paling depan berjudul "Ditolak di Sekolah Formal, Lulus Kuliah Umur 11 Tahun dengan IPK 4!".
Membaca judul buku tersebut awalnya biasa saja. Mungkin seperti kebanyakan anak - anak lainnya yang dilahirkan dengan IQ Super alias Jenius. Tapi saya masih memaksakan diri untuk membuka secara singkat isi buku tersebut dan ternyata jeng..jeng...diluar perkiraan. He is an ordinary people with a strategy and goal in life. Dia memang mengatakan itu berkali - kali dalam bukunya. Bahwa dia adalah anak biasa seperti pada umumnya dan bukanlah anak jenius.




Salah satu kemunduran yang kita alami seiring dengan bertambahnya umur adalah; berkurangnya kemampuan kita dalam belajar. Kalau kita berusaha untuk menghafal sesuatu misalnya, hafalan kita hanya bertahan beberapa jam saja. Atau, paling lama dalam hitungan hari. Setelah itu, kita lupa lagi, seolah tidak pernah melewati proses menghafal tadi. Selama ini kita percaya bahwa menurunnya kemampuan kita dalam belajar ada kaitannya dengan penurunan kemampuan otak kita. Oleh karena itu, orang-orang dewasa seperti kita selalu mempunyai cukup alasan untuk diberi belas kasihan. Jadi, "harap dimaklumi saja jika orang dewasa seperti kami ini agak 'telmi'". Tetapi, apakah penurunan kemampuan kita dalam menyerap ilmu itu benar-benar disebabkan oleh penurunan kemampuan otak, ataukah karena kurangnya antusiasme kita dalam belajar?
